Suara Bandung

Berita Seputar Bandung dan Sekitarnya

Suara Bandung - Dunia seputar Pasundan dan sekitarnya

Siapa Yang Terbaik ?

Published on Wednesday, May 22, 2013 9:14 AM //

Jelang Final Liga Champions 2013: Borussia Dortmund vs Bayern Muenchen

Usai pensiunnya Michael Ballack, Bastian Schweinsteiger menjadi pemain paling penting di lini tengah Jerman.  Tak hanya kemampuannya menjadi pengatur permainan yang menjadikannya pemain kunci. Senioritasnya diharapkan dapat menjadi panutan anggota skuat Jerman yang mayoritas berisi pemain muda.


Saat Schweini sedang tidak maksimal pun, pelatih Joachim Loew enggan mencoretnya dari daftar susunan pemain. Indikasi betapa pentingnya peran pemain Bayern Muenchen ini di timnas Jerman.

Namun kini Schweini harus menjaga konsistensi jika ingin tetap mengenakan jersey putih hitam. Seorang pemain berdarah Turki mencoba mengusik tempatnya di timnas Jerman. Maret lalu pemain bernama Ilkay Gundogan ini bermain gemilang ketika mengisi posnya saat Jerman menghadapi Kazakhstan. Penampilannya kala itu membuat Jerman tak merindukan Schweinsteiger yang terkena akumulasi kartu kuning. 

Dalam dua musim terakhir Ilkay Gundogan memang berkembang pesat. Dibeli dari Nuernberg ia bertransformasi menjadi kunci permainan gemilang Dortmund di Bundesliga dan Liga Champions. Sesuatu yang sangat ironis bagi pemain kelahiran Gelsenkirchen –markas Schalke, musuh bebuyutan Dortmund. 

Sedikit banyak Schweinsteiger dan Gunndogan memiliki kesamaan. Keduanya mengawali karir sebagai gelandang serang dan menemukan permainan terbaik sebagai gelandang bertahan. Atribut keduanya pun mirip. Baik Schweinsteiger maupun Guendogan memiliki operan akurat dan visi permainan brilian.

Situs whoscored.com mencatat Gundogan rata-rata melepaskan 48,7 umpan di tiap pertandingan Liga Champions bersama Dortmund. Sementara Schweinsteiger mencatat sampai 61,2 umpan di tiap pertandingan bersama Bayern Muenchen. Angka tersebut menjadikan keduanya sebagai pengumpan terbanyak bagi klub masing-masing di Liga Champions.

Meski Schweinsteiger mencatat jumlah operan yang lebih banyak bukan berarti ia lebih baik. Rataan akurasi umpan keduanya tak jauh berbeda. Schweinsteiger dengan 87,2 % sedangkan Gundogan dengan 86,6 %. Perbedaan jumlah umpan ini lebih disebabkan gaya permainan  masing-masing tim. Fondasi permainan Bayern adalah penguasaan bola sementara Dortmund identik dengan serangan balik cepat. Wajar jika jumlah umpan Schweini menjadi lebih banyak.

Jika soal catatan jumlah umpan kedua pemain ini cukup berimbang, maka catatan gol dan assist keduanya di Liga Champions berbeda. Schweinsteiger total telah mencatat 2 gol dan 4 assist di Liga Champions sementara Guendogan belum sekalipun mencetak gol maupun assist.

Sekilas catatan gol ini membuat Schweinsteiger terlihat lebih baik, namun tidak jika kita melihat statistik jumlah tembakan yang dilepaskan. Dalam sebelas pertandingan Guendogan mencatat 10 tembakan dan Schweini 11 tembakan. Hanya tiga tembakan Guendogan yang meleset dari gawang sementara Schweinsteiger mencatat hingga 5 tembakan meleset dari sasaran.

Selain bertugas sebagai pengatur lini tengah kedua pemain juga memiliki tanggung jawab dalam membantu pertahanan. Meski keduanya sering diduetkan dengan gelandang perebut bola strategi tim menuntut mereka ikut bertahan. 

Soal bertahan Schweinsteiger menjadi pemain dengan jumlah tekel terbanyak di klubnya. Rata-rata 3.9 tekel per pertandingan adalah yang terbanyak di Bayern Muenchen. Guendogan sendiri hanya melakukan 2.8 tekel per pertandingan. Schweini tak hanya unggul dalam jumlah tekel. Persentase keberhasilannya sebesar 88% masih lebih unggul dibanding Gundogan yang hanya 81%.

Sekali lagi, catatan ini tak membuat Schweinsteiger menjadi lebih baik. Kontribusi bertahan tak hanya diukur dari catatan jumlah tekel dalam tiap pertandingan.

Satu variabel penting bernama penempatan posisi tak bisa dianggap enteng dan Gundogan telah belajar bagaimana melakukannya dengan baik. Sayang variabel tersebut belum bisa dibuat dalam bentuk angka-angka.

Jika ada variabel yang menunjukkan superioritas Schweinsteiger atas Guendogan barangkali adalah duel udara. Dalam 11 pertandingan Liga Champions yang dilakoninya musim ini Schweinsteiger mencatat total 21 kali duel udara dengan prosentase kemenangan 62%. Sangat jauh dibanding Gundogan yang hanya memenangkan dua dari sembilan duel udara yang dilakoni. Selisih tinggi badan keduanya yang hanya 2 cm tentu tak bisa menjadi alasan.

Lalu apakah Schweinsteiger lebih baik?  Tidak juga. Gundogan mengkompensasi kekurangannya dalam duel udara dengan catatan dribel yang baik. Situs footballclub.ccn.com mencatat Gundogan melakukan 10 dribel sukses dari 17 percobaan, sementara Schweinsteiger hanya mencatat 5 kali sukses dari 12 percobaan.

Partai final Liga Champions pada 25 Mei 2013 atau 26 Mei dinihari waktu Indonesia mendatang akan menjadi ajang pembuktian siapa di antara keduanya yang lebih unggul. Keduanya akan berhadapan secara langsung di Stadion Wembley.

Lini tengah memiliki peranan vital dalam permainan tim. Karenanya, duel Schwiensteiger dan Ilkay Gundogan akan menentukan pemenang trofi “The Big Ear”.

Bagi Joachim Loew tak ada momen sebaik final Liga Champions untuk menentukan siapa yang lebih baik diantara keduanya. Secara statistik perbedaan keduanya tidak terlalu jauh, namun tekanan di partai puncak bisa menjadi pembeda. Kekuatan mental saat dalam tekanan sering menjadi pembeda antara pemain yang baik dan pemain hebat.

Tags:

0 comments

Leave a comment

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!